Cari Blog Ini

Wednesday 3 September 2014

Prosedur Intravena



 PROSEDUR AKSES INTRAVENA

  1. Akses Vena Perifer
Alat dan bahan yang digunakan dalam pemasangan akses intravena perifer antara lain sarung tangan nonsteril, kateter plastik yang menyelubungi jarum, papan lengan, selang akses untuk cairan intravena, tiang intravena, larutan/cairan untuk terapi intravena, gunting, alat pelindung linen dan paket atau perlengkapan pemasangan intravena, termasuk torniket, plester dengan lebar 2,5-5 cm, kapas alkohol (atau antiseptik yang telah direkomendasikan oleh institusi, seperti povidone), balutan kasa berukuran 5x5 cm, plester perekat dan label perekat (Scott Moses, 2011). Adapun kateter berdasarkan warna, ukuran kateter dan kecepatan alirannya adalah sebagai berikut:
Gauge
size
Catheter
length(mm)
Catheter
colour
Flow rate
ml/min(H2O)
Flow rate
l/hr(H2O)
Flow rate
ml/min
(blood)
22
25
Blue
42
2.5
24
20
32
Pink
67
4.0
41
18
32
Green
103
6.2
75
18
45
Green
103
6.2
63
16
45
Grey
236
14.2
167
14
45
Orange
270
16.2
215

Prosedur pemasangannya:
a.     Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan dan mencuci tangan
b.    Menghubungkan cairan dan intravena set dengan memasukkan ke bagian karet atau akses selang ke botol cairan intravena
c.   Mengisi cairan ke dalam set intravena dengan menekan ruang tetesan hingga terisi sebagian dan buka klem selang hingga cairan memenuhi selang dan udara selang keluar
d. Meletakkan pangalas di bawah tempat vena metacarpal yang akan dilakukan akses intravena perifer
e.  Melakukan pembendungan dengan torniket 10-12 cm di atas tempat penusukan dan anjurkan pasien untuk menggenggam dengan gerakan sirkular (bila sadar)
f.      Menggunakan sarung tangan steril
g.     Mendisinfeksi daerah yang akan ditusuk dengan kapas alkohol
h.   Melakukan penusukan pada vena dengan meletakkan ibu jari di bagian bawah vena da posisi jarum (abocath) mengarah ke atas
i.      Perhatikan keluarnya darah melalui jarum (abocath/surflo) maka tarik keluar bagian dalam (jarum) sambil meneruskan tusukan ke dalam vena
j.     Setelah jarum intravena bagian dalam dilepaskan atau dikeluarkan, tahan bagian atas vena dengan menekan menggunakan jari tangan agar darah tidak keluar. Kemudian bagian intravena dihubungkan atau disambungkan dengan selang intravena yang sudah disiapkan di awal tadi.
k.     Membuka pengatur tetesan dan atur kecepatan sesuai dengan dosis yang diberikan
l.       Melakukan fiksasi dengan kasa steril
m.   Menuliskan tanggal dan waktu pemasangan akses intravena serta catat ukuran jarumnya
n.     Melepaskan sarung tangan dan cuci tangan

  2. Akses Vena Seksi Perifer
Alat yang digunakan adalah alat proteksi diri, betadine, anaestesi lokal, bantalan kasa, gunting benang, duk, benang nilon 4-0, hemostat lengkung yang kecil, ikatan benang silk 3-0, penghantar sklapel dan mata pisau, jarum 25 G, selang intravena dan larutan intravena (Thomas Terndrup, 1996).
Prosedurnya:
a.       Menjelaskan prosedur, informed concernt dan memposisikan pasien sesuai tindakan
b.      Memakai APD dan menyiapkan daerah tersebut dengan betadine
c.     Melakukan infiltrasi tempat insisi dengan anestesi lokal dengan semprit 3 ml dan jarum 25 G
d. Melakukan tindakan vena seksi. Urut-urtan pelaksanaan umum vena seksi adalah identifikasi gambar batas-batas anatomis, persiapan pembedahan kulit, insisi kulit, diseksi vena, introduksi kateter kedalam lumen pembuluh darah, dan stabilisasi kateter.
e.     Menjahit kateter ke kulit dengan benang nilon 4-0 dan menutup insisi kulit dengan benang nilon 4-0
f.      Menggunakan balutan
       
           
  3. Akses Vena Sentral
a.      Vena Femoralis
Alat yang digunakan untuk memasang akses vena femoralis antara lain betadine, bantalan kasa 4x4 inci, semprit 10 dan 20 ml, jarum 1,5 inci no 20G, stopcock 3 jalur, gunting benang, kawat penunjuk dengan diameter 0,035 inci x panjang 25-30 inci, larutan heparin, mata pisau no 11, dilator vena, selang tambahan, APD, handuk steril, lidokain 1%, jarum 1 inci no 25G, kateter jarum berdinding tipis ukuran 2,5 inci no 18.G, selang intravena dan larutan intravena, kateter lumen tunggal atau lumen tripel, benang nilon 3-0 pada jarum lengkung, dan sarung tangan steril (Thomas Terndrup, 1996 & Swanson et al, 1984).
Prosedur yang dilakukan:
1)    Membaringkan klien terlentang dengan paha sedikit abduksi dan fiksasi tungkai bawah
2)   Memakai sarung tangan dan bersihkan kulit dengan cairan antiseptik kemudian tutup dengan kain penutup steril
3)     Menentukan lokasi penusukan dengan meraba vena femoralis berada disebelah medial dari arteri femoralis
4)  Memberikan suntikan infiltrasi dengan lidokain untuk anestesi lokal dan hubungkan jarum dengan semprit kemudian dibilas dengan larutan NaCl steril
5)  Dengan tetap meraba arteri dengan satu jari, tusuk jarum dengan sudut 45 derajat kearah umbilikus
6)     Mendorong jarum sambil menarik semprit untuk melakukan aspirasi
7)  Melepaskan semprit dari jarum setelah darah keluar, kemudian memasukkan kawat penunjuk dan mencabut jarum dengan perlahan
8)  Memasukkan introducer atau kateter kemudian dorong kateter sampai ke vena cava inferior
9)  Menjahit kateter ke kulit kemudian tarik kembali kawat penunjuk dan hubungkan dengan dengan intravena set serta fiksasi dengan plester
    


b.      Vena Jugularis Interna
Alat yang digunakan adalah duk, antiseptik betadine, lidokain 1%, jarum anestesi 1 ¼ inci no 25 sampai 27 G, kawat penunjuk bentuk J dan introduser kawat, hemostat, benang nilon 3-0, APD, semprit, jarum pungsi vena, kateter, scalpel no 11, gunting benang, salep antibiotik dan pembalut plastik yang bening (Peter Mariani, 1996 & Sanford TJ, 1985).
Prosedurnya (pendekatan posterior):
1)     Menjelaskan prosedur dan informed concernt
2)     Menyiapkan jalur intravena yang akan dihubungkan
3)  Pasien diposisikan trendelenburg dengan kepala mengalami rotasi kurang lebih 45 derajat menjauh dari tempat yang direncanakan untuk pungsi vena.
4)     Menutup dengan duk daerah pungsi vena dengan cara steril
5)     Melakukan infiltrasi kulit dengan obat anestesi di sebelah posterior dari perut posterior muskulus sternokleidomastoideus, 1/3-1/2 jauhnya dari klavikula sampai mastoid
6)    Setelah mempalpasi ulang lokasi takik sterna, maka muskulus sternokleidomastoideus digenggam diantara ibu jari dan jari telunjuk tangan yang tidak dominan sambil sedikit menarik kembali muskulus ke depan.
7) Memasukkan dan memajukan jarum pungsi vena ke bawah perut muskulus sternokleidomastoideus menuju ke taktik sternum, kemudian aspirasi jarum tersebut
8)   Pada saat memasuki pembuluh darah, lakukan stabilisasi jarum, lepaskan semprit dan masukkan serta majukan kawat penunjuk 10-15 cm
9) Luncurkan jarum keluar dari kawat dan lakukan insisi kulit sekitar kawat untuk menyesuaikan dengan diameter kateter
10) Masukkan unit kateter introduser di atas kawat ke permukaan kulit. Kemudian tarik kembali kawatnya sesuai kebutuhan
11)  Majukan unit tersebut diatas kawat ke dalam sirkulasi sentral
12) Melepaskan kawat dan introduser secara intoto, kemudian tutuplah hub kateter dengan ibu jari tangan
13)  Menghubungkan selang intravena ke kateter
14)Melakukan anestesi pada daerah kulit yang berdekatan dengan ujung kateter dan buatlah jahitan pada daerah tersebut
15)Memberikan salep antibiotic pada tempat tusukan dan menutupnya dengan verban bening
      

c.       Vena Subklavia
Alat yang digunakan antara lain betadine, bantalan kasa 4 x 4 inci, semprit 10 dan 20 ml, jarum 1,5 inci no 20 inci, stopcock 3 jalur, kateter lumen tunggal atau tripel, larutan heparin, benang nilon 3-0, dilator vena, handuk steril, lidokain 1%, jarum 1 inci no 25 G, jarum berdinding tipis ukuran 2,5 inci no 18 G, kawat penunjuk, mata pisau no 11, dan APD (Marcy Layton, 1996 & Herbst CA, 1978)
Prosedurnya:
1)     Menjelaskan prosedur dan informed concernt
2)     Memposisikan pasien terndelenburg dan memakai APD
3)     Menyiapkan lokasi dengan betadine dan tutup dengan duk yang luas
4)   Menentukan tempat masuknya jarum dengan menentukan letak sudut  yang dibentuk oleh kosta pertama dan klavikula.
5)     Melakukan anestesi dengan lidokain di tempat yang akan ditusuk
6)    Memasang sebuah semprit 10 ml ke jarum 18 G yang berdinding tipis. Jarum tersebut diarahkan ke sudut yang dibentuk oleh klavikula dan kosta pertama
7)    Begitu didapatkan darah vena yang adekuat, semprit dilepaskan dan sebuah jari secara cepat diletakkan diatas jarum yang terbuka untuk mencegah emoboli udara
8)    Kawat penunjuk dimajukan melalui jarum dan jarum dilepaskan kembali diatas kawat penunjuk
9)  Dapat dibuat suatu insisi kecil pada tempat masuknya supaya kateter masuk lebih mudah
10) Memasukkan dilator vena diatas kawat penunjuk serta dilakukan insersi 10 cm dibelakang tempat masuknya
11) Setelah dilator vena dilepaskan dengan kawat penunjuk tetap berada ditempat maka kateter yang dipilih diletakkan diatas kawat penunjuk
12)  Melepaskan kawat penunjuk dan melakukan aspirasi melalui kateter
13) Tiap lumen kateter dapat disemprot dengan larutan heparin atau dikaitkan dengan jalur intravena yang terhubung, kemudian lakukan pembalutan

  3. Akses Intraosseous
Alat yang digunakan antara lain jarum besar no 15-18, kassa, semprit suntik, obat antiseptic dan anestesi lokal, APD, dan intravena set (Ee Tein Tey et al, 2011)
Prosedurnya:
a.       Baringkan pasien, pasang bantal dibawah sendi lutut.
b.      Besihkan dengan antiseptik, beri anestesi lokal
c.       Masukkan jarum pada tibia proksimal, dengan sudut 45-60 derajat ke arah distal.
d.      Aspirasi
e.       Pasang jalur intravena & masukkan cairan intravena.




DAFTAR PUSTAKA

Ee Tein Tey et al. 2011. Intraosseous Access. Medscape Reference: Drug Diseases and Procedure. Diakses 21 Juli 2012. http://emedicine.medscape.com/article/80431-overview#a01

Herbst CA. 1978. Indications, Management, and Complications or Percutaneus Subclavian Catheter. Arch Surg 113:1421

Layton, M. 1996. Prosedur Kedaruratan: Jastremski, Michael. S. Alih bahasa: Andri Hartono. Editor: Monica Ester. Jakarta: EGC

Mariani, P. 1996. Prosedur Kedaruratan: Jastremski, Michael. S. Alih bahasa: Andri Hartono. Editor: Monica Ester. Jakarta: EGC

Moses, S. 2011. Intravena Access. Family Practice Notebook. LLC. Published 27 November 2011. Diakses 21 Juli 2012. http://www.fpnotebook.com/

Sanford TJ. 1985. Internal Jugular Vein Cannulation Versus Subclavian Vein Cannulation: An Ansethesiologist’s View: The Right Internal Jugular Vein. J Clin Monit 1:58-61

Swanson RS et al. 1984. Emergency Intravenous Access Through the Vemoral Vein. Ann Emerg Med 244:51

Terndrup, T. 1996. Prosedur Kedaruratan: Jastremski, Michael. S. Alih bahasa: Andri Hartono. Editor: Monica Ester. Jakarta: EGC
 

No comments:

Post a Comment

Contact Us

Name

Email *

Message *